Bahaya Politik Agama Pemilu 2024

Sudah lama penulis tidak membahas tentang isu politik. Namun tahun 2024 nanti, ketika semua pemilu ini harus dilalui dengan kesadaran penuh dan tentunya dengan akal sehat logika yang berkualitas, haha. Mungkin kalian mau flashback lihat postingan saya terkait penistaan agama ahok. Jadi saya merasa punya tanggung jawab yang besar tahun 2024 jangan sampai ada orang yang berpolitik karena politik Agama. Bukan menjerumuskan harus milih siapa, namun melihat dari sisi common sense.

Tradisi Indonesia, Agama jadi Politik

Sebagai orang yang sangat peduli tentang pemilu 2024, kok saya agak concern sekali ya dengan pengadaan pemilu 2024 nanti. Fakta bahwa di Indonesia bahwa Islam adalah agama terbesar pertama dan pemeluk agama Islam terbesar di dunia, maka bisa memberikan keuntungan dan kerugian.

Dari sisi keuntungan, kalian pasti sudah tahu lah gimana ya. Namun dari sisi kerugian ketika menghadapi pemilu 2024 nanti itu bisa berdampak negatif. Mari kita coba beropini dengan kalkulasi simpel saja.

Generasi Taat Beragama

Bagi kalian yang menganut agama Islam dan mengklaim bahwa kalian adalah generasi yang taat beragama, maka sudah tahu konsekuensinya. Artinya agama dijadikan sebagai landasan hidup dan landasan hukum, serta secara konsisten berusaha menjaga akhlak dan hati yang bersih. Hubungan antar manusia selalu dijaga, apalagi hubungan antara hamba dan Tuhan-Nya.

Jika generasi taat bergama ini benar-benar melakukan kewajibannya, berarti segala pemikiran harus di landasi dengan pemikiran yang bersih dan logika berpikir yang matang. Dengan menambahkan hadist referensi Nabi / Rosul sebagai pedoman hidup. Dan tidak mudah ter-provokasi secara mudah dengan hal yang receh.

Generasi Asal Ngumpul

Saya pribadi memperhatikan akhir-akhir ini banyak sekali generasi ngumpul. Disclaimer ini adalah bahasa yang saya buat sendiri dari opini. Artinya generasi yang berlandaskan atas jumlah dan kuantitas dari banyaknya majelis atau jumlah pengikut. Secara tidak langsung si generasi ngumpul ini ingin mengatakan bahwa, kuantitas yang besar adalah bukti kalau ini bagian dari kebenaran, dan berjumlah sedikit tidak benar, karena jarang ada yang ngikut.

Personal yang mengikuti generasi ini berarti menegaskan bahwa existensi itu penting, oleh karena itu kuantitas dari pengikut secara tidak langsung sudah seperti mempertegas kalau pemikiran, ide, gagasan, fakta, pilihan yang dianut adalah benar dan absolut.

Sekarang mari kita pikirkan apa yang terjadi ketika kamu adalah seorang individu yang berdaulat, namun dengan adanya arahan dari si ketua pengikut ini maka dengan cepat dan mudahnya bisa mengontrol banyaknya umat atau pengikut yang ada.

Lalu mari pikirkan apa yang akan terjadi ketika ada suatu pengajar agama Islam, ya katakanlah ustadz atau siapapun itu yang mempunyai kuantitas pengikut yang dimaksud di atas, kemudian ia mengimbau kepada seluruh jamaahnya untuk menyuruh A atau memilih B saja, dsb.

Yes, bagi kalian yang merupakan generasi asal ngumpul tentu dengan sangat sigap dan lugas akan mengikuti arahan dari ustadz tersebut. Namun kalau kalian adalah generasi taat beragama, maka harus dipergetas sekali lagi bahwa kamu punya otoritas 100% untuk memilih siapa yang akan menjadi calon pemimpin 2024 ke depan. Dan itu adalah kebebasan absolut milikmu dan tidak boleh dipengaruhi oleh pihak ke tiga atau ke empat sekali pun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *