Bedanya Brain Death dan Coma Apa?

Kembali lagi saya sudah lama engga nulis di blog, tapi kali ini ngebahas dikit tentang kesehatan. Karena tidak dipungkiri saat pandemi kita mau tidak mau harus belajar lebih mandiri dan lebih pintar lagi dalam hal kesehatan. Jadi tema kesehatan kadang suka saya buka, walaupun itu tidak berhubungan dengan Covid-19.

Sebelum loncat ke pokok artikel, perlu saya kasih disclaimer bahwa saya bukanlah dokter atau tenaga kesehatan. Dan tidak mempunyai pendidikan kesehatan kecuali belajar dari Youtube, media online. Jadi bisa dikatakan saya hanya lulusan sarjana Youtube untuk bidang kesehatan. Sangat menarik karena saya rasa masih banyak mis-persepsi dengan kasus yang satu ini.

Coma

Ada kesamaan ketika seseorang terkena status Coma dan Brain Death. Persamaannya yaitu sama-sama tergeletak di rumah sakit tidak sadarkan diri mayoritas. Kemudian persamaan kedua, sama-sama masih bisa bernapas secara normal, walau kadang dibantu dengan alat pernapasan.

Namun Coma adalah suatu kondisi sementara bagi seseorang biasanya pasca kecelakaan kondisi otak bagian tertentu terkena benturan atau luka cukup serius. Sehingga tidak sadarkan diri. Pasien Coma masih bisa bertahan hidup dan bisa sembuh selama otak bagian Stem masih bekerja dengan baik. Dampak Coma berkisar 30 hari atau bisa beberapa hari saja. Banyak orang yang bisa sembuh dari Coma.

Baca juga : Rekomendasi Minuman Sehat Masa COVID-19

Brain Death

Brain Death atau kematian otak tidak sama dengan Coma. Brain Death berarti jika bagian otak tertentu terkena luka cukup serius maka berakibat fatal, bahkan cenderung menyebabkan kematian. Bagian otak Cortex dan Stem jika terjadi kerusakan, artinya semua organ manusia ikut mati dalam waktu relatif tidak lama.

Ketika seseorang mengalami Brain Death, biasanya masih dibantu alat pernapasan untuk bernapas. Namun ini hanya bertahan sementara waktu. Karena fungsi jantung tetap bekerja, namun pada akhirnya akan berhenti jika terjadi kerusakan otak yang cukup parah. Artinya jika organisator mati, semua kegiatan akan mati. Karena jantung punya kebiasaan natural, ia tetep bekerja namun tidak lama akan mati juga.

Yang perlu di waspadai adalah seseorang tidak dapat sembuh kembali dari Brain Death, yang berarti kematian total dari pusat organisator. Otak.

Beberapa organisasi menyarankan ketika seseorang sudah terkena Brain Death, maka alangkah baiknya untuk melakukan donasi organ bagi mereka yang membutuhkan. Karena dengan donasi organ berarti menyelamatkan nyawa orang lain juga.

sumber saya kutip dari sini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *