Kimi Hime Dipanggil Kominfo Karena Vulgar, Salah Siapa?

Satu lagi berita yang lagi geger (gempar) yang telah dimuat dalam beberapa artikel media berita elektronik yang cukup terkenal. Berita kali ini tidak hanya seputar artis, atau pemerintahan juga. Namun sudah merangkap Youtuber juga bisa kena ulas di media elektronik. Bagi penonton Youtube dan penyuka game, siapa yang tidak tahu Kimi Hime?

Sudah beberapa hari lalu portal berita elektronik memposting artikel seputar dipanggilnya Youtuber bernama Kimi Hime karena alasan tertentu oleh Kominfo. Jujur saja, sejak postingan blog ini dipasang saya sempat bosan melihat berita yang ini itu saja dengan judul berita yang diubah-ubah sedikit, namun isinya sama saja. Capek juga klik ini itu isinya sama saja.

Menurut salah satu portal berita terkenal yang saya kutip, yaitu inet detik, mengatakan bahwa konten Youtube yang ada pada channel Kimi Hime dianggap nuansa vulgar. Tidak tanggung-tanggung, Komisi I Kominfo mendapat laporan dari Asosiasi Pengawas Penyiaran Indonesia (APPI) konten Youtube Kimi Hime mengandung konten dewasa.

Menurut saya, konten dewasa yang ada di Internet tidak memiliki acuan yang jelas mana saja yang dianggap dewasa, dan mana yang tidak. Hal itu tergantung dari prespektif cara melihat kita atau sudut pandang kita melihat masalah tersebut. Semua tahu, Youtube adalah platform kreatifitas bagi para pengguna secara bebas dan semua orang bebas untuk melakukan upload video, terlepas apapun itu.

Batasan video dewasa bukan berarti tidak boleh ditonton, artinya harus ada filter yang menengahi kalau video atau channel tersebut ada Disclaimer atau pemberitahuan hanya untuk konten dewasa atau 17 tahun ke atas. Kecuali video porno, memang jelas tidak baik. Mengingat Youtube memiliki batasan sendiri mana yang dikategorikan porno atau konten dewasa.

Perlu diingat juga, Youtube adalah platform yang boleh digunakan oleh semua orang tanpa terkecuali. Jika memang ada konten yang dianggap dewasa bagi sebagian orang, bukan berarti harus di take down semua. Bagi sebagian orang mungkin konten dewasa, namun bagi mereka lainnya bisa saja biasa-biasa saja. Kalau orang tersebut terbiasa pakai tank top saat streaming dan sudah terbiasa, kan bukan haknya kita untuk melarang orang tersebut untuk jangan pakai tank top lagi saat streaming.

Logikanya adalah, ketika kamu sudah terbiasa dan nyaman menggunakan A lalu dapat laporan dari sebagian orang kalau tidak boleh pakai A, ya bukan hak kita melarang orang atau menyuruh orang tersebut untuk tidak menggunakan A. Kalau kamu yang biasa menggunakan A lalu karena sebagian orang tidak suka dan disuruh berhenti, berarti kamu sudah merampas hak asasi seseorang. Hak fundamental bagi tiap orang dalam menjalani kehidupan. Jika sekedar memberi nasihat dan advise mungkin tidak apa, tapi bukan berarti berhak melarang. Seandainya kita digituin, pasti marah dan kesal.

Lalu bagaimana solusinya? Menyalahkan orangnya langsung BUKANLAH solusi. Itu artinya kita hanya berpikir pendek agar masalah cepat selesai. Kunci dari solusi terkait kasus Kimi Hime yaitu adanya filterisasi dari pihak platform (Youtube) dan adanya parenting guide dari orang tua si anak. Karena pada hakikatnya, kamu tidak dapat menyalahkan dan melarang orang tersebut dengan alasan sebagian orang terganggu. Lalu apa fungsi orang tua untuk filter? Lalu apa fungsi pihak platform? Lalu mana suara-suara para pakar yang sudah belajar tinggi-tinggi namun untuk saat ini tidak bersuara sama sekali?

Menurut saya, Ingat! Youtube adalah platform publik. Kalau konten dianggap bermasalah, jangan salahkan konten kreator lalu suruh hapus video. Tapi salahkan regulasi pemerintah kita yang kurang kuat mengantisipasi filterisasi perkembangan dunia digitalisasi. Menyalahkan orang bukan solusi dari masalah. Berembuk dan membuat inovasi dan belajar dari kesalahan adalah solusi yang sebenarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *