Dibalik Layar GM dan Developer Game

Blog post kali ini mungkin bisa menjadi jawaban dari kebanyakan pertanyaan para gamers, khususnya game online di Indonesia termasuk saya. Karena membahas sedikit rahasia seputar Game Master dan sedikit obrolan antara GM dan Developer game. Karena menurut saya menarik sepertinya untuk dibahas.

Cerita ini sebenarnya adalah kisah nyata yang tidak disangka-sangka. Setelah bekerja kurang lebih hampir 1 tahun dengan rekan kerja saya di kantor, ternyata ia memiliki cerita yang menarik. Ternyata sebelumnya ia bekerja sebagai GM (Game Master) dalam sebuah game online PC Elseword. Game ini cukup populer di masanya, bahkan hingga sekarang masih ada beberapa player yang memainkan game ini.

Kerjaan sebagai GM ternyata cukup repot juga. Baik itu dalam hal administrasi hingga bagian teknis. Perlu kamu ketahui, GM bukanlah teknisi yang dapat membetulkan game jika ada error atau bug dalam game. Semua bug yang telah terjadi ditampung terlebih dahulu, kemudian GM forward ke pihak Developer game tersebut (di Korea).

Yang menariknya adalah, ketika ada sebuah gamer atau para gamers yang menggunakan cheat untuk bermain, lalu ketahuan dan disebar luaskan. Hal tersebut tentu saja membuat repot para GM, karena harus mengumpulkan bukti dan mereplikasi bagaimana cara menghasilkan cheat tersebut.

Tidak sampai disitu saja, lucunya para Developer di Korea lebih dominan tidak percaya jika ada yang bisa menjebol dan menggunakan cheat. Hal ini disampaikan teman saya yang katanya sudah mengatakan adanya laporan cheat, namun Developer Korea tidak percaya. Namun ketika diperlihatkan cheat tersebut dan cara menggunakannya, mereka malah kebingungan dan seolah-olah berkata “Kok bisa ya?”.

Jika merujuk dari cerita teman saya, budaya bermain game Indonesia dan Korea sangat berbeda. Di Korea, budaya bermain game sangat patuh dengan yang namanya hukum. Bahkan untuk bisa bermain sebuah game saja, kamu harus melakukan registrasi berupa identitas penduduk atau KTP dulu, baru bisa bermain game. Dengan kata lain, data informasi seperti tempat tinggal, nama dan sebagainya adalah orisinil dan asli.

Lain halnya di Indonesia, proses registrasi mudah dan bisa dipalsukan atau menggunakan informasi yang fiktif. Bahkan bocah yang berumur 12 tahun pun juga bisa ikut bermain dan mengisi data fiktif tanpa ada verifikasi yang valid. Verifikasi yang formal dilakukan biasanya hanya verifikasi email saja. Lagipula, hukum digital di Indonesia juga masih belum ketat dan perlu adanya revolusi dalam bidang game online.

Singkat kata, walaupun dulunya saya cheater sekarang saya sadar bahwa investasi dan nilai sebuah game dari sebuah perusahaan publisher game nilainya sangat fantastis dan tidak bisa dianggap sepele. Harus ada yang memulai revolusi tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *