2019 Politik Fitnah dan Hoax

Sudah hampir 5 tahun sudah kepimpinan presiden Joko Widodo berkiprah namun jujur saja, diantara politik pencapresan yang ada pada tahun sebelumnya, menurut saya 10 tahun terakhir berubah.

Menanggapi video yang dilontarkan oleh presiden Joko Widodo beberapa hari lalu (di youtube), mengenai tanggapan dan sanggahannya terhadap isu yang memojokkan presiden telah beredar luas di media sosial atau youtube. Yang paling panas di kuping adalah isu fitnah dan sara yang saat ini sepertinya ya sudah beredar dan jadi “taktik” politik.

Fitnah, sara, Hoax everywhere

Fitnah artinya adalah adalah memberikan stigma negatif kepada satu orang atau sekelompok orang / grup. Menjelang proses pemilihan kepala daerah atau pencalonan presiden selama 10 tahun terakhir, sudah banyak yang memberikan berita miring dan fitnah kepada lawan politiknya baik itu secara langsung maupun tidak langsung.

Fitnah secara langsung biasanya diutarakan dari kutipan wawancara atau kutipan perkataan kemudian diputar ulang. Biasanya di acara debat kutipan fitnah cenderung terjadi, entah untuk menjatuhkan lawan politik atau memberi stigma buruk.

Fitnah secara tidak langsung biasanya lebih cenderung diutarakan lewat media elektronik khususnya website berita portal, atau blog personal maupun kelompok yang asal menulis berita negatif terhadap suatu tokoh politik aktif. Tujuannya jelas untuk menjatuhkan si lawan politik.

Jika kalian melihat postingan saya sebelumnya tentang politik adu domba, nah kurang lebih metodenya agak sama dengan yang itu. Biasanya ada orang atau kelompok bayaran yang mengerjakan hal seperti ini.

Sara adalah kepanjangan dari Suku Ras Agama dan Antar golongan. Maksudnya adalah berbagai pandangan dan tindakan yang didasarkan pada sentimen identitas yang menyangkut keturunan, agama, kebangsaan atau kesukuan dan golongan.

Senjata politik yang paling ampuh ke dua adalah Sara. Karena dengan mengedepankan visi misi segolongan yang mayoritas suatu suku, agama atau kelompok tertentu, dengan demikian telah mengumpulkan suara dan kekuatan mayoritas. Biasanya alat sara adalah topeng yang dipakai untuk mengelabuhi orang atau kelompok tertentu untuk menggoalkan tujuan individu atau kelompok sebagian.

Hoax adalah berita bohong yang tidak dapat dibuktikan kebenarannya. Berita hoax sangat mudah dibuat oleh individu atau kelompok tertentu terhadap keberpihakan pada lawan politik. Apalagi politik saat ini dengan memanfaatkan teknologi telah meracuni beberapa orang dengan berita yang belum tentu benar demi kepentingan segolongan. Bagi kita masyarakat, untuk jangan percaya begitu saja. Berita hoax biasanya cenderung miring dan negatif.

Saling menjelekkan

Akhir-akhir ini sudah banyak juga debat maupun orasi dari individu, perwakilan kelompok saling menjelekkan lawan politiknya. Ketimbang berkompetisi atau berdebat secara bersih, menunjukkan kompetisinya malah menjelekkan dan memojokkan lawan politik.

Biasanya, tipe seperti ini tidak dapat menunjukkan pencapaian atau hasil kerjanya dan karena tidak ada bahan untuk “membangkitkan semangat” para anggota atau kelompoknya, mau tidak mau mengungkit kekurangan orang lain untuk menyerukan betapa tidak kompetennya si lawan politik dia. Kita ambil contoh, jika si orang ini terpilih jadi pemimpin daerah belum ada jaminan juga kalau dia bisa lebih baik dari yang sekarang bukan?

Sebelah mata

Selama beberapa tahun terakhir ini saya memandang politik dengan sebelah mata saja. Politik tidak terlalu berdampak pada kehidupan masyarakat. Namun ternyata sekarang berubah, hal itu sangat berdampak sekali di masyarakat. Percaya atau tidak, bisa berujung pada perpecahan masyarakat di suatu daerah juga.

Ternyata setelah saya amati, beberapa lawan politik yang tidak mencapai pencapaian biasanya lebih cenderung menggunakan cara seperti fitnah, membangun citra buruk si lawan politik, bikin berita hoax, dsb. Tujuannya tidak lain untuk melemahkan citra si lawan politik yang sudah punya prestasi dimana-mana.

Balik modal

Mencalonkan diri menjadi pemimpin daerah pada dasarnya membutuhkan biaya yang tidak murah. Jadi bisa dimengerti ketika mereka-mereka ini yang mencalonkan diri jadi pemimpin daerah atau capres nanti melakukan segala hal cara untuk menang (bahkan cara yang tercela).

Yang jelas, bagi mereka yang sudah mengeluarkan dana kampanye hingga milyaran bahkan trilyunan rupiah sudah stress berat. Nah, kalau si x ini menjadi pemimpin, sudah pasti deh, namanya individu tidak ada yang mau merugi. Pasti mencari cara untuk bisa balik modal bagaimanapun caranya.

Namun ada kondisi juga pemimpin yang ditunjuk oleh sebuah kelompok atau partai untuk maju dengan syarat nol rupiah. Kalau dilihat yang sudah ada-ada ini, biasanya yang maju menjadi pemimpin syarat nol rupiah kepemimpinannya lebih baik. Karena tidak ada hasrat untuk yang namanya balik modal.

Banyak janji, hasil nol

Dari pemimpin yang sudah ada, sudah banyak belajar bagaimana mereka berpidato, debat dan sebagainya. Janjinya sangat banyak, dari hal yang tidak mungkin hingga yang sangat sangat sangat tidak mungkin. Seperti contoh DP 0% yang enggak masuk akal menurut saya.

Saya bukan warga DKI, tapi opini saya tentang DP 0% sih bagus programnya, tapi terkesan mengelabuhi masyarakat level menengah dan ke bawah. Menurut pola pikir saya nih ya, kita realistik saja.

Logikanya, jika ada DP berarti kan biaya cicilan akan berkurang karena sebagian sudah dibayar di muka. Yang berarti, biaya cicilan bulanan menjadi lebih ringan untuk dibayarkan.

Jika DP 0% berarti tidak ada biaya di muka yang dibayarkan, bagus. Tapi beban biaya DP yang harusnya ada akan dihilangkan dan di bebankan ke biaya bulanan tersebut. Otomatis cicilan per bulan menjadi lebih tinggi dari biasanya. Akibatnya, masyarakat dengan gaji level tertentu berpotensi tidak dapat mencicil. Programnya sangat bagus, namun banyak “tapi…” yang tidak dijelaskan ke publik.

Buat perbedaan yang real, walaupun sedikit

Seharusnya mereka yang berbondong-bondong harus memikirkan ini. Bagaimana membuat suatu perbedaan walaupun dampaknya hanya sedikit, namun membangun dan maju. Menghilangkan aspek negatif, dan melanjutkan program kerja yang positif yang telah ada sebelumnya.

Sayangnya tidak demikian. Pemimpin daerah baru cenderung punya “ego” sendiri. Mereka lebih mementingkan ego sendiri ketimbang melanjutkan proyek strategis daerah atau nasional. Program yang sudah bagus berjalan biasanya malah dihentikan. Lalu diganti program lain yang belum tentu ada hasilnya.

Ada yang menarik juga, program lama dihentikan, lalu diganti namanya sedikit, namun programnya isinya secara keseluruhan sama dengan sebelumnya. Itu juga ada lho haha.

Kesimpulan

Akhir kata di blog dcyber09 yang artikelnya agak panjang ini, kalau mau jadi seorang calon pemimpin pastikan anda mengaca terlebih dahulu. Sudah pantaskah anda jadi pemimpin yang nanti dipilih oleh masyarakat?

Sudah kah anda maju menjadi pemimpin dengan cara yang bersih? Karena model zaman dulu, mau jadi pemimpin menunjukkan kapabilitas dan kelebihan dan hasil kerja yang dulu pernah ada. Kalau sekarang, mau jadi pemimpin malah menebar fitnah, kebencian dan perpecahan.

Sudah kah anda rendah hati? Mau dan berani mengakui kesalahan sendiri? Mau instropeksi diri?

Oleh karena kita sebagai pembaca dan pendengar setia alias masyarakat indonesia jangan sampai terpengaruh oleh segelintir orang yang memiliki kepentingan terselubung. Pikir pakai logika terlebih dahulu dan cari faktanya di media sebelum melompat ke kesimpulan.

Whatsapp, youtube, blogspot dan blog lainnya bukanlah sumber fakta. Isinya hanya campuran fakta dan opini yang belum tentu benar. Biasanya, pemimpin yang bijak dan cerdas adalah ia yang menunjukkan kelebihan kerjanya, menunjukkan visi misinya, ketimbang nyinyir dan menyudutkan lawan politiknya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.