Siapapun bisa jadi petani, bahkan seorang sarjana

Setelah menonton video berdurasi sekitar 1 jam, salah satu program dari Kick Andy dengan judul “Saya Sarjana dan Saya Petani, Kick Andy 28 November 2015, Metro TV” mungkin bisa menjadi inspirasi anda, rekomended!

Kenapa? Karena topik programnya cukup menarik, bisa anda baca dari judulnya. Program tersebut berisi para sarjana muda yang menekuni pekerjaan sebagai petani. Program tersebut membawa 2 orang muda mudi yang baru lulus sarjana S1 yang kemudian langsung tertarik dan belajar menerapkan ilmu bertani. Bisa dibilang, kedua narasumber inspirasi ini tergolong sukses dalam profesi peralihannya sebagai petani, dan berhasil memajukan sektor sosial sekitar mereka.

Mengutip dari isi program Kick Andy tersebut, mereka dengan bangganya menyukai pekerjaan sebagai petani. Merek bercerita dengan awal jatuh bangun dan kerja keras serta kegigihan bakal mendatangkan kesuksesan yang lebih. Kebanyakan orang berprasangka jika menjadi petani maka kehidupan relatif sengsara dan tidak dapat dijadikan sebagai acuan hidup. Namun tampaknya pandangan tersebut dibantah oleh Adi dan Agis.

Adalah seorang Adi, lelaki lulusan universitas Gunadarma S1 yang kini berprofesi sebagai petani dan sedang melanjutkan kuliahnya ke S2 (mungkin tahun ini sudah kelar). Berkat kegigihan dan kerja kerasnya dalam mengembangkan usaha, tahun 2014 lalu hasil pertanian yang ia sudah geluti sejak tahun 2000 ternyata sudah menembus pasar internasional! Diantaranya seperti Belanda dan Jerman. Petani rempah-rempah ini kini memasok rempah seperti lengkuas, kunyit dan jahe ke pasar Jabodetabek dan mungkin saja rempah yang kita makan sehari-hari adalah hasil dari jerih payahnya.

Lain dengan Adi, Agis seorang lelaki lulusan Universitas Gadjah Mada S1 berprofesi ganda. Yakni sebagai petani dan sekaligus peternak. Melihat potensi yang dimiliki Banten yaitu tanah luas berlimpah, ia mulai mengembangkan sebuah pertanian. Hasilnya bisa dibilang lumayan. Dari hasil 2000 meter tanah yang ia kelola sendiri, bahkan ia merambah ke peternakan karena melihat peluang yang besar. Tidak hanya menguntungkan diri sendiri, ia mulai membina petani sekitar untuk lebih cerdas dalam bertani, memanfaatkan hasil sekitar secara berkesinambungan. Ia memulai peternakan secara gotong royong bersama teman-temannya juga dan berbuah besar, walaupun awalnya para penduduk cukup ragu. Namun kini, terbukti hasil peternakan seperti susu sampai kebanjiran pesanan.

Untuk lebih jelasnya bisa langsung nonton link di bawah ini.

Ada satu kalimat yang menarik dari kalimat yang diucapkan oleh Adi (pada sesi pertama), kurang lebih bunyinya seperti ini, “Kalau anak petani tidak ada yang jadi petani, anak muda semua inginnya ke kota jadi karyawan, lalu siapa yang jadi penerus petani?”. Realitanya saat ini seperti demikian. Apalagi ditambah makin banyak perumahan masiv dan pembangunan yang mulai menggerus tanah hijau.

Kesimpulan yang bisa kita ambil : Profesi apapun itu, selama dihayati, ditekuni dan untuk tujuan yang baik akan membuat kita bangga terhadap profesi kita. Hilangkan filosofi lama, pekerjaan apapun bisa berbuah manis asal tekun dan cermat dalam mengelola.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *