B-20: Salah Satu Formula Pemerintah Menekan Laju Defisit Akibat Rupiah Melemah

Sudah bukan hal yang tidak perlu ditutupi lagi kalau saat ini kurs Indonesia mengalami pelemahan cukup signifikan dari waktu ke waktu. Hingga hari ini saya menulis blog ini, Indonesia menembus kurs hingga 14.900 rupiah per USD. Wow.

Melemahnya kurs rupiah dampaknya sangat terasa di kita, apalagi mengingat Indonesia adalah negara Net importir. Kebanyakan kebutuhan kita selalu import. Tapi kali ini kita akan bahas, bagaimana pemerintah menyelesaikan masalah ini satu per satu.

Menurut berita yang dikemas di CNN, ada 3 jurus andalan formula kebijakan pemerintah untuk menekan defisit. Lho maksudnya defisit apa nih?

Maksudnya adalah ketika kita mengimpor barang A itu kan di harga rupiah 13500 namun beberapa saat kemudian kurs rupiah menurun dan ada yang namanya depresiasi terhadap barang A yang dimana kini rupiah 14700. Berarti ada nilai defisit sekitar 1200 yang berdampak di pembelanjaan negara sebagai defisit.

Untuk menyelesaikan defisit ini berbagai langkah dilakukan untuk menekan laju import barang. Salah satunya adalah kebijakan B-20.

B-20 atau Biodiesel 20 adalah kebijakan pemerintah untuk mencampur bahan bakar solar dengan minyak kelapa sawit. Sebanyak 20% akan ditambahkan pada tiap liter solar yang dampaknya bisa menekan laju import minyak dan otomatis menghemat pembelanjaan negara.

Mengapa harus kelapa sawit? Selain produk ini adalah komoditas export utama kita, kelapa sawit dalam pasar sedang melimpah banyak. Jadi menurut pandangan pemerintah, ada baiknya jika kita gunakan campuran minyak ini 20% ke diesel.

Menurut pemerintah, campuran 20% tidak akan membuat mesin rusak atau tidak bisa berjalan. Masih bisa berjalan. Dan nampaknya kebijakan ini sudah di evaluasi sedemikian rupa dengan harapan bisa menghemat.

Tidak hanya itu saja, per September 2018 ini pemerintah mengeluarkan peraturan untuk mencampur 20% diesel dengan minyak kelapa sawit untuk beberapa waktu ke depan. Jika ada instansi atau organisasi yang tidak menerapkan peraturan tersebut, maka sanksinya adalah dikenakan denda sebesar 6000 rupiah per liternya yang tidak dicampur minyak sawit 20%. Kalau ada banyak contoh 100 liter, lumayan juga ya dendanya.

Dengan satu kebijakan B-20 ini saja, cadangan devisa negara mampu dihemat hingga 1,1 milyar USD. Per liter bio solar 20 ini akan dijual dengan harga sekitar 5150 rupiah. Cukup murah.

Terlepas dari kebijakan ini ada banyak pro dan kontra karena sifat alami teknis dari minyak kelapa sawit yang menyebabkan pergantian filter lebih cepat dibandingkan pemakaian solar biasa.

sumber : YT

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.